Info Terbaru :
Terbaru

Mempercepat Sengon Tumbuh 2 Kali Lipat


Pada dasarnya, transformasi genetika yang diterapkan Enny Sudarmonowati, periset pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tidak hanya melulu pada sengon yang bisa dipercepat pertumbuhannya sampai hampir dua kali lipat.

Bioteknologi, dalam hal ini transformasi genetika (transgenik), memungkinkan upaya mempercepat pertumbuhan semua jenis tanaman produksi kehutanan yang biasanya mencapai puluhan tahun,” kata Enny, Kamis (19/8) di Jakarta.Enny yang dikukuhkan sebagai profesor riset LIPI pada 21 Mei 2010 mengatakan, di dunia setidaknya ada 25 negara yang sudah getol mengaplikasikan bioteknologi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman produksi kehutanannya. Diperkirakan luas hutan produksi di dunia yang sudah bersentuhan dengan bioteknologi ini mencapai 800 juta hektar.

Negara tetangga, Filipina, menurut Enny, contoh salah satu negara yang aktif menggiatkan riset dan aplikasi bioteknologi ini. ”Negara China apa lagi. Negara ini sangat maju dalam mengembangkan bioteknologi transformasi genetika untuk mempercepat produksi tanaman kayunya,” ujar Enny.

Di dalam risetnya, Enny memilih jenis tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) karena sengon tergolong sebagai tanaman kayu kehutanan paling cepat tumbuh dan pangsa pasarnya tergolong paling besar. Untuk keperluan konstruksi, kayu sengon biasanya dipetik dalam usia 15 tahun. Kayu sengon untuk industri bubur kertas biasa dipanen dalam usia enam tahun.

Berdasarkan riset Enny yang dimulai sejak 1992, dengan transformasi genetika pada sengon itu diperoleh percepatan 1,8 kali atau hampir dua kali lipat pertumbuhannya. Ini jika dibandingkan dengan sengon nontransgenik.

”Kayu sengon transgenik untuk konstruksi bisa dipetik pada usia sekitar 7 tahun, yang seharusnya jika tanpa rekayasa bioteknologi ini masih menunggu sampai 15 tahun,” kata Enny.

Dua gen

Transformasi genetika untuk mempercepat pertumbuhan sengon, menurut Enny, hanya membutuhkan transfer dua gen, yaitu gen Xyloglucanase dan Cellulase.

”Kedua jenis gen itu berfungsi meningkatkan pertumbuhan dan kandungan selulosa,” kata Enny. Sengon transgenik pada awal semai hingga tiga bulan mulai menunjukkan perbedaan. Daun-daun sengon transgenik mengembang lebih luas. Batang utama mulai menjulur lebih tinggi jika dibandingkan sengon nontransgenik.

”Kebetulan, cara untuk mendapatkan kedua gen itu dari jenis pohon poplar, yaitu tumbuhan kayu cepat tumbuh dari Jepang,” kata Enny.

Kegiatan riset sengon transgenik ini merupakan hasil kerja sama dengan Jepang, yaitu Universitas Kyoto. Namun, menurut Enny, kedua gen itu juga bisa diambil dari pohon kayu cepat tumbuh di Indonesia.

”Selain sengon, memang belum ditemukan jenis lainnya yang bisa lebih cepat tumbuh. Kedua gen itu bisa diambil dari sengon yang tumbuh abnormal lebih cepat hingga melampaui yang lainnya,” kata Enny.

Metode insersi

Metode insersi atau mentransfer kedua gen Xyloglucanase dan Cellulase ke jenis tanaman sengon dimulai dengan penentuan cara mendapatkan kedua gen tersebut. Jika ingin mendapatkannya dari sengon abnormal, langkah yang harus ditempuh berupa membentuk pustaka Ribonucleic acid (RNA) yang mencakup komposisi molekul biologinya.

Dilanjutkan dengan memancing gen yang diinginkan, yaitu Xyloglucanase dan Cellulase. Caranya, dengan mencocokkan urutan basa gen.

Setelah diperoleh, kedua gen itu diisolasi dan dibiakkan. Lalu, dipadukan dengan promotor serta gen penyeleksi atau gen penanda sehingga siap diinsersikan ke individu tanaman.

”Proses insersi ini menggunakan bakteri Agrobacterium tumefaciens yang diperoleh dari bakteri gall,” kata Enny. Bakteri gall banyak ditemui pada pembengkakan batang pohon yang dengan sengaja dilukai. Pembengkakan batang pohon yang dilukai itu kerap disebut kena kanker batang.

Proses insersi kedua gen, menurut Enny, dijalankan satu per satu. Caranya dengan mencelupkan individu tanaman sengon hasil kultur jaringan ke larutan yang mengandung salah satu gen tersebut secara bergantian.

Kalus embriogenik

Ada satu hal yang harus dilampaui untuk proses insersi dua gen dalam upaya memperoleh sengon transgenik ini, yaitu mendapatkan individu baru secara cepat dan massal.

”Caranya dengan membentuk reaksi kalus embriogenik untuk menghasilkan individu baru secara massal dalam waktu relatif cepat. Kalus embriogenik ini metode kloning,” kata Enny.

Kalus embriogenik menggunakan metode pengembangbiakan secara vegetatif. Jaringan vegetatif seperti daun bisa digunakan untuk menghasilkan ribuan individu baru hasil kloning itu.

Riset yang mulai dikembangkan sejak 1992 itu kini menghasilkan sejumlah jenis sengon transgenik yang ditanam di Fasilitas Uji Terbatas (FUT), yakni FUT milik LIPI di Pusat Sains Cibinong. ”Di Indonesia hanya ada dua FUT. Yang lainnya di Bogor, yaitu milik Kementerian Pertanian,” kata Enny.

Hasil pengembangan bioteknologi melalui transformasi genetika pada tanaman kayu cepat tumbuh seperti sengon, menurut Enny, tidak bisa langsung diaplikasikan di lapangan. Lebih tepatnya, tidak mudah.

Selain harus mengikuti regulasi keamanan hayati, masyarakat masih alergi terhadap isu tanaman transgenik. Uji lapang tanaman transgenik secara teknis juga tidak murah karena butuh gugusan tanaman pelindung setebal minimal tiga meter. ”Tanaman transgenik kehutanan ini tidak untuk dimakan atau tidak untuk dikenakan di tubuh kita. Semestinya ini bisa diterima,” ujar Enny.
{[['']]}

Mewujudkan Ambisi Swasembada Gula


Dalam pertemuan di sebuah rumah makan di Jombang, Jawa Timur, Minggu awal Juli lalu, perwakilan dari 11 Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat se-PTPN X membahas rencana menunda pengiriman tebu ke pabrik gula. Mereka meminta jaminan rendemen tebu minimal 7 atau lebih. Apabila tak dipenuhi sampai Senin, tebu berhenti dikirim.

Tak semua perwakilan bersuara sama karena ada yang sudah puas dengan rendemennya. Kesepakatan akhirnya dicapai, penghentian pengiriman dilakukan dua hari. Menurut peserta rapat dari wilayah kerja Pabrik Gula (PG) Watoe Toelis, Suwandi, penghentian tak bisa lebih lama karena petani akan rugi.”Kami kirim ke mana lagi kalau tidak ke PG,” kata Suwandi saat dihubungi kembali, Kamis (19/8). Upaya itu tak membawa banyak perubahan, hitungan rendemen tak berubah.

Rendemen hanyalah salah satu permasalahan industri gula Indonesia setelah merosot dari masa keemasan tahun 1930-an. Ambisi mencapai swasembada gula pada 2014 diupayakan melalui intensifikasi industri tebu yang sudah ada, ditambah penambahan lahan dan PG baru.

Intensifikasi berhubungan dengan rendemen yang diakui Menteri Pertanian Suswono masih jadi perdebatan karena ditentukan kualitas tanaman tebu, kemampuan PG mengambil kristal gula dari tebu, dan faktor manusia penghitung rendemen.

”Kenekatan” petani mengultimatum PG mencerminkan juga belum terbangunnya kemitraan setara. Padahal, keduanya saling butuh karena petani tebu tak mudah berganti ke tanaman lain. Upaya petani itu, terutama yang rendemennya di bawah 6, didesak turunnya pendapatan yang, menurut Suwandi, besarnya Rp 1 juta-Rp 2 juta daripada tahun lalu.

Anomali cuaca berupa curah hujan tinggi hingga musim kemarau diduga menurunkan rendemen. Biaya tahun ini juga meningkat, antara lain tebang-angkut, karena tanah basah akibat hujan sehingga truk tak dapat masuk jauh ke kebun. Kinerja sebagian besar PG di Jawa juga tak memuaskan. Menurut peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Ali Susmiadji, efisiensi PG mengambil sukrosa hanya 77-81 persen, sementara standar dunia 85 persen.

Deputi Menteri BUMN Agus Pakpahan mengatakan, saat ditugasi menilai PG di Jawa sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Kehutanan dan Perkebunan, dia menemukan hanya 20 persen PG yang efisien secara ekonomis dan teknis. Usia PG yang tua—beberapa dibangun tahun 1830-an—menjadi penyebab. Saat itu diusulkan tidak memindahkan agroindustri gula Jawa ke luar Jawa seperti kesepakatan letter of intent dengan IMF tahun 1998, tetapi merestrukturisasi, merekayasa ulang, dan merevitalisasi PG.

Mengejar ambisi

Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian sudah menyusun peta revitalisasi industri gula, berisi mulai dari masalah, cara mengatasi, hingga ukuran keberhasilannya. Peta itu mengenali kendala dalam kualitas tebu yang ditentukan oleh bibit, efisiensi PG, dan tata niaga. Sayangnya, peta tidak menghitung ketidakadilan perdagangan internasional.

Seperti laporan para duta besar dan kuasa usaha ad interim dalam Ekonomi Gula 11 Negara Pemain Utama Dunia, Kajian Komparasi dari Perspektif Indonesia (Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan, 2004), 10 negara yang dikaji memberlakukan kebijakan promosi dan proteksi. Mulai dari peran negara dalam penelitian dan pemberian bunga rendah pembiayaan industri hingga proteksi melalui pembatasan impor melalui kuota, bea masuk tambahan dan tarif, serta pengaturan pasokan domestik.

Dalam upaya menuju swasembada gula dengan sasaran 5,7 juta ton gula kristal putih (GKP), hampir dua kali target produksi 2010 (2,9 juta ton), kesan yang muncul adalah kurangnya koordinasi. Pernyataan Wakil Menteri Pertanian dan Kepala Bulog, pekan lalu, tentang rencana impor gula dilakukan sebelum penghitungan produksi selesai karena Agustus ini masih puncak giling.

Dari sisi tanaman, Ali Susmiadji menghitung, bila tahun ini pembibitan mulai dilakukan, tahun 2011 bibit mulai ditanam di 30 persen lahan petani sambil membangun pabrik baru. Artinya, pabrik baru beroperasi penuh tahun 2014. Nyatanya, usaha pembibitan belum tampak dan meningkatkan efisiensi industri yang ada butuh waktu lama.

Staf Ahli Asosiasi Gula Indonesia Colosewoko mengatakan, peraturan sudah memadai, hanya tinggal pelaksanaan. Contohnya, SK Menperindag No 527/2004 bahwa gula rafinasi hanya boleh dijual ke industri menimbulkan tafsir ganda, apakah industri rumah tangga yang secara tradisional konsumen GKP juga termasuk industri seperti pada SK. Kenyataannya, sulit mengawasi gula kristal rafinasi (GKR) tak dikonsumsi langsung jika industri rumah tangga dimasukkan sebagai pemakai GKR. Alhasil, keluhan GKR masuk ke eceran dan menekan harga GKP akan terus terjadi.

Maka, seperti dikatakan Komisaris Utama PTPN X HS Dillon, yang pernah memimpin restrukturisasi PTPN, diperlukan keberpihakan kepada petani dan rakyat banyak, bukan ego sektoral. (Ninuk M Pambudy)
{[['']]}

Petani Jagung Dapat Kepastian Pasar


Jakarta, Kompas - Petani jagung kini mendapatkan kepastian pasar. Tiga perusahaan besar pakan ternak sepakat menjalin kerja sama untuk membeli jagung petani.

Tiga perusahaan tersebut adalah PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia, dan PT Sierad Produce. Kontrak kerja sama tersebut dibuat tiga perusahaan itu dengan 16 pemerintah kabupaten di empat provinsi. Rinciannya, tiga kabupaten di Lampung, satu di Jawa Tengah, empat Jawa Timur, dan delapan Sulawesi Selatan.Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, Selasa (27/7) dari Maros, Sulawesi Selatan, menjelaskan, dengan kerja sama itu, industri pakan ternak mendapat kepastian pasokan bahan baku pakan dan petani mendapat kepastian pasar.

Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional Maxdeyul Sola mengatakan, penandatanganan nota kesepahaman (MOU) segera ditindaklanjuti dengan kontrak pembelian jagung. Masing-masing kabupaten diharapkan memasok 10.000 ton jagung per bulan sehingga setiap bulan ada 160.00 ton jagung petani yang terbeli. Dalam setahun, 1,92 juta ton jagung petani sudah mendapatkan kepastian pasar.

Adapun harga akan disesuaikan dengan harga saat penyerahan barang. Harga yang ditetapkan mengacu pada harga jagung dunia.

Dengan kontrak pembelian ini, industri pakan ternak diuntungkan karena tidak perlu membayar bunga L/C seperti kalau mereka membeli jagung dari impor, selain ada jaminan pasokan bahan baku.

Maxdeyul menjelaskan, kualitas jagung dalam negeri relatif lebih baik karena lebih segar. Kerja sama ini diharapkan menjadi model dan dikembangkan untuk memacu peningkatan produksi jagung nasional. Industri pakan setiap tahun membutuhkan 5 juta ton jagung.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia Anton J Supit menegaskan, kualitas jagung yang diserap sesuai standar pabrik pakan. ”Dengan kerja sama ini, industri pakan ternak serius mendukung pengembangan budidaya jagung,” katanya. (MAS)
{[['']]}

Kebutuhan Benih Padi Meningkat


Jambi, Kompas - Kebutuhan benih padi meningkat pada awal kemarau ini. Pasalnya, banyak benih yang telah ditanam petani beberapa waktu lalu rusak akibat terendam banjir. Saat ini banjir melanda 353 hektar areal persawahan yang baru saja ditanami padi di Kota Jambi.

Dalam pantauan Kompas, banjir tersebut terjadi pada belasan hektar hamparan sawah di Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi. Padahal, bibit semaian baru saja ditanam di sawah. Banjir yang berlangsung hampir sepekan terakhir tersebut mengakibatkan sebagian tanaman rusak. Tidak hanya itu, banyak petani malah tidak bisa menanam padi hasil persemaian karena genangan air pada lahan sawah mereka masih terlalu tinggi. ”Kami sudah membuat semaian, tapi padinya belum bisa ditanam. Kami masih harus menunggu sampai air sedikit surut,” kata Ali, petani di Sejinjang, Jambi Timur, Kamis (22/7).

Di sentra penanaman padi Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, hamparan padi yang mulai menguning juga terendam banjir, setelah hujan terus turun dalam sepekan terakhir. Menurut Darus, petani setempat, bulir padi yang telah keluar dikhawatirkan tidak memberikan hasil yang berkualitas sama seperti pada panen-panen terdahulu.

”Kalau terendam banjir cukup lama, akan memengaruhi kualitas gabah. Bahkan, gabah bisa rusak kalau terendam terlalu lama,” ujarnya.

Butuh benih

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DPPP) Kota Jambi Harlik mengatakan, dari hasil pendataan, areal persawahan yang tergenang banjir di wilayahnya mencapai 353 hektar dari total 1.200 hektar sawah di wilayah tersebut. Banjir terjadi di empat kecamatan, yaitu di Jambi Timur 156 hektar, Danau Teluk 55 hektar, Pelayangan 138 hektar, dan Telanaipura 4 hektar.

Menurut Harlik, sebelumnya telah disalurkan 24,8 ton benih padi kepada petani. Benih tersebut bersumber dari benih cadangan nasional. Atas kerusakan benih yang terjadi akibat banjir tersebut, pihaknya harus mengajukan kembali bantuan benih kepada pemerintah provinsi.

Bantuan ini untuk mengganti benih di tingkat petani yang telah rusak. ”Kami sudah mengajukan sebanyak 475 kilogram bibit padi baru melalui provinsi untuk disalurkan ke petani yang sawahnya terendam banjir,” ujarnya.

Harlik juga mengkhawatirkan adanya anomali cuaca yang makin nyata terjadi saat ini. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas padi. Padahal, tahun ini pemerintah setempat menargetkan peningkatan produksi beras.

Dinas terkait juga telah menargetkan produktivitas gabah kering panen (GKP) naik, yaitu mencapai 6,5 ton per hektar pada tahun 2010. Volume tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebanyak 5,9 ton. ”Namun, kami khawatir produktivitas padi pada tahun ini takkan mencapai target karena faktor iklim yang kian tak menentu,” ujarnya.

Karena itu, untuk mengantisipasi gagal tanam, dinas terkait kini mulai mengupayakan penyaluran bibit padi kepada petani. Dengan demikian, bibit padi itu segera ditanam kembali di lahan sawah.

”Penyediaan bibit baru adalah pilihan terbaik saat ini. Jika sudah ada, bibit segera ditanam sehingga dapat terhindar dari kemungkinan rusaknya tanaman saat hujan lebat,” ujarnya. (ITA)

sumber
{[['']]}

Serangan Wereng Cokelat Meresahkan


Boyolali, Kompas - Menteri Pertanian Suswono memastikan produksi beras sampai akhir tahun 2010 akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meski demikian, pihaknya terus memantau perkembangan serangan hama wereng cokelat yang kian meresahkan, yang dapat mengganggu produksi beras.

Hal itu diungkapkan Suswono, Rabu (21/7) malam, seusai berdialog dengan peternak dalam rangka ”Pameran Lomba dan Kontes Ternak Nasional 2010” di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.Menurut Mentan, produksi beras 2010 mengalami peningkatan 1,27 persen dibandingkan tahun 2009. Melihat perkembangan produksi beras seperti dalam perkiraan Badan Pusat Statistik, pihaknya yakin pasokan beras tahun 2010 aman.

Ditanya soal serangan hama wereng cokelat yang kian meresahkan petani, Suswono menyatakan terus memantau perkembangan pemberantasan. Kalau memang pemberantasan hama wereng batang cokelat bisa lebih cepat, tidak perlu ada instruksi presiden terkait pemberantasan.

”Kalau gejala makin tak terkendali, inpres pemberantasan hama wereng menjadi sangat penting. Dengan adanya inpres, penyebaran wereng masuk kondisi darurat. Dengan begitu, ada kebijakan dari atas langsung, seperti soal anggaran penanggulangan,” katanya.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir meminta pemerintah membantu petani menanggulangi hama wereng bila pangan memang masih dianggap penting.

”Untuk mengatasi wereng cokelat, petani perlu dibantu pestisida sehingga bisa diadakan pemberantasan secara serempak di semua provinsi yang terserang. Jangan biarkan petani nelayan sendirian menghadapi perubahan iklim yang ekstrem,” katanya.

Jangan biarkan petani nelayan menjadi korban perubahan iklim. Dengan sumber daya manusia yang rendah, petani sulit menghadapi hal yang tak biasa ditemui di lapangan dan beri informasi yang jelas soal kondisi iklim yang dihadapi petani nelayan.

”Dampingi petani nelayan agar tak bertambah miskin, berikan bimbingan teknologi yang cocok dalam menghadapi situasi yang sedang dihadapi, sehingga gagal panen berbagai komoditas bisa dieliminasi,” katanya.

Buat tim khusus menghadapi perubahan iklim untuk mencari solusi, para ahli waktunya bekerja keras memikirkan petani nelayan yang sedang dilanda kesulitan. Sudah saatnya anggaran untuk pertanian diprioritaskan dan ditingkatkan, sekarang masih di bawah 10 persen.

Jangan sepelekan

Puluhan ribu petani padi sudah terkena dampak serangan hama wereng batang cokelat. Produksi padi mereka turun atau bahkan kehilangan produksi sama sekali karena rusak diserang wereng cokelat.

Meski demikian, belum ada keseriusan dari pemerintah untuk memberantas hama wereng cokelat.

Menurut Sekretaris Jenderal Dewan Beras Nasional Maxdeyul Sola, yang dipersoalkan pemerintah sekarang hanya data tanaman padi yang puso atau gagal panen. Padahal, banyak tanaman padi lain yang terserang wereng cokelat sehingga produktivitas padi turun hingga 70 persen.

Sola tidak melihat adanya upaya serius dari Kementerian Pertanian untuk memberantas hama wereng cokelat. Ketidakseriusan ini tampak dari sepinya gerakan yang bersifat nasional dan serentak dalam memerangi wereng cokelat.

”Serangan wereng cokelat sudah masuk kondisi genting, harus ada gerakan nasional tidak harus saling menunggu,” katanya. Sola membandingkan tindakan pemerintah pada saat wabah wereng cokelat tahun 1980 dengan saat ini. Saat itu Sola menjabat Kepala Seksi Perencanaan Anggaran Proyek Departemen Pertanian.

Sola menyatakan, ketika terjadi wabah wereng cokelat tahun 1986, ada 56 pestisida yang dilarang penggunaannya. Pemerintah juga melakukan penggantian varietas padi secara serentak dengan varietas IR-64.

Anggaran dikerahkan sepenuhnya, bahkan tidak harus menunggu. Pemberantasan wereng cokelat menjadi prioritas penanganan di semua lini karena mengancam ketahanan pangan dan merugikan petani.

”Bahkan, dulu pemerintah mengeluarkan inpres. Untuk mempercepat kerja birokrasi, diberlakukan ”stempel merah wereng cokelat”. Dokumen, surat, map, atau apa pun yang disetempel merah mendapatkan prioritas penanganan baik terkait anggaran atau yang lainnya. Pejabat negara yang sedang olahraga atau rapat sekalipun wajib memprioritaskan stempel merah. Bisa dilihat betapa seriusnya penanganan waktu itu,” katanya.

Bandingkan dengan langkah pemerintah saat ini. Mau melakukan pemusnahan harus menunggu anggaran. Akibatnya, langkah penanggulangan wereng cokelat menjadi terlambat. Puluhan ribu petani merugi, baik secara total maupun sebagian.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan, penjualan beras operasi pasar (OP) masih rendah. Namun, beras OP tetap tak akan dijual kepada pedagang, tetapi kepada konsumen langsung dengan maksimal pembelian 45 kilogram dengan harga Rp 5.850 per kg.

Sutarto menyatakan, ada fenomena menarik di pasar di mana selisih harga jual beras di tingkat grosir dan ritel tinggi. Bila sebelumnya hanya selisih Rp 200-Rp 300 per kg di Jakarta, sekarang bisa Rp 500 per kg. Aliran beras ke luar Jawa juga tinggi.

”Kami mengalokasikan beras untuk OP tidak terbatas. Saat ini yang melakukan OP baru Jakarta dan sebagian Jawa Timur,” katanya. (mas)

sumber
{[['']]}

Alokasi Pupuk Tak Terserap


KARAWANG, KOMPAS - Alokasi urea bersubsidi untuk sebagian besar wilayah di Jawa Barat selama Januari-Mei 2010 baru terserap 94,7 persen dari total 244.845 ton. Mundurnya jadwal tanam akibat anomali cuaca serta banjir di awal tahun diduga menjadi pemicunya.

Kepala Biro Komunikasi PT Pupuk Kujang Arifin, Rabu (23/6) di Karawang, mengatakan, kebutuhan pupuk selama Januari-Mei, berdasarkan rincian permintaan yang diajukan pemerintah kota/kabupaten di wilayah pemasaran PT Pupuk Kujang di Jabar (kecuali Kuningan, Majalengka, Tasikmalaya, dan Banjar), mencapai 244.845 ton. Adapun realisasi distribusi selama kurun waktu tersebut adalah 231.872 ton.Arifin menambahkan, realisasi penyerapan pupuk di sebagian besar wilayah di Jabar lebih rendah daripada kuota yang ditetapkan. Kondisi itu berkebalikan dengan kota/kabupaten Tegal dan Brebes (Jawa Tengah) yang juga menjadi wilayah pemasaran PT Pupuk Kujang, yakni 100,22 persen dari kuota. Realisasi penyerapan di daerah itu sebanyak 41.242 ton dari alokasi 41.150 ton.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Karawang Nachrowi Muhamad Nur, banjir yang menerjang sebagian wilayah Karawang pada Januari dan Februari lalu menyebabkan sebagian tanaman puso dan jadwal tanam mundur 1-2 bulan. Kondisi itu terjadi di daerah golongan air IV dan V di pesisir utara Karawang.

"Berdasarkan jadwal penggiliran air, seluruh persawahan di Karawang seharusnya sudah ditanami pada 15 Januari lalu. Namun, banjir memaksa petani menunda penanaman hingga dua bulan," ujar Nachrowi.

Organik

Selain banjir dan anomali cuaca, rendahnya penyerapan urea diduga dipicu meluasnya pemakaian pupuk organik. Sebagian petani beralih ke pupuk organik seiring dengan kenaikan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi serta peningkatan kesadaran untuk memperbaiki lingkungan.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Karawang, hingga 15 Juni 2010 realisasi tanam musim tanam 2009/2010 ialah 97.395 hektar. Adapun luas panen mencapai 95.154 hektar. Nachrowi memperkirakan, untuk musim tanam 2010, hingga pekan terakhir Juni sekitar 40.000 hektar sawah telah ditanami padi. Sekitar 500 hektar di antaranya bahkan telah memasuki masa panen.

"Ada keterlambatan tanam pada musim tanam 2009/2010, tetapi petani kini mempercepat penanaman untuk mengejar jadwal penggiliran air. Kami berupaya agar target produksi tetap tercapai di akhir tahun," ungkapnya.

Realisasi produksi padi Karawang hingga pertengahan Juni ini adalah 695.293 ton gabah kering panen atau produktivitasnya rata-rata 7,3 ton per hektar. Angka itu mencapai 63,2 persen dari target produksi tahun ini, yakni sekitar 1,1 juta ton GKP.

Arifin menambahkan, stok pupuk di gudang pabrik dan gudang lini di setiap kota/kabupaten sebanyak 117.447 ton dan mencukupi kebutuhan petani. Kebutuhan petani Jabar selama Juni ini ialah 51.430 ton, sedangkan realisasi penyaluran hingga 22 Juni mencapai 33.962 ton.

"Sebanyak 4.955 ton urea kini dalam proses pengiriman ke gudang-gudang lini di setiap daerah. Petani tidak perlu khawatir kesulitan mencari pupuk karena stok saat ini cukup melimpah dan kedua pabrik terus berproduksi setiap hari," ujarnya. (mkn)
{[['']]}

Petani Cabai Untung Besar


PROGO, KOMPAS - Para petani cabai keriting merah yang menggarap lahan pasir di kawasan pesisir selatan Kulon Progo untung besar. Musim panen kali ini harga tertinggi cabai keriting merah sempat menembus angka Rp 25.500 per kilogram.

Ketua Asosiasi Pasar Tani Kulon Progo Sudiro menuturkan, harga cabai panen kali ini membuat petani bahagia. Selama lima belas kali panen, petani di Desa Garongan, Panjatan, Kulon Progo, mendapat harga jual Rp 10.300 per kg hingga Rp 25.500 per kg."Harga di pasar lelang berubah setiap hari, tetapi sejak dua minggu terakhir harga jual berada di atas Rp 20.000 per kg. Puncaknya kemarin mencapai Rp 25.500 per kg," ujarnya, Rabu (23/6).

Tingginya harga jual cabai saat ini memperbesar omzet di pasar lelang. Setiap malam, omzet penjualan cabai di lima kelompok petani Desa Garongan menembus angka Rp 1 miliar.

Padahal, selain di wilayah Desa Garongan, petani di wilayah Pantai Glagah hingga Bugel juga mulai memanen cabai.

Saat ini di wilayah pesisir selatan Kulon Progo terdapat setidaknya 21 titik pelelangan cabai. Pada masa panen raya, lelang cabai berlangsung setiap malam. Pembelinya berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Tengah hingga Jakarta.

Titik impas

Menurut Sudiro, setiap petani cabai sebenarnya mencapai titik impas jika harga jual cabai pada kisaran Rp 3.500 per kg. Tingginya harga jual cabai saat ini sangat menguntungkan mereka.

"Ini rezeki dari Tuhan. Petani sudah disusahkan terus oleh pemerintah, sekarang harga cabai milik petani pesisir malah jadi tinggi," ujarnya.

Salah satu petani cabai, Mujiran, menuturkan, pertanian di pesisir selatan Kulon progo telah cukup menjamin kehidupan warga. Dengan harga jual cabai yang mencapai Rp 24.000 per kg saat ini, petani bisa menyejahterakan dirinya sendiri.

Selain itu, setiap musim panen tiba petani di wilayah pesisir juga membuka peluang kerja bagi ratusan warga dari wilayah lain di Kulon Progo. Mereka bekerja sebagai buruh petik cabai dengan upah Rp 25.000-Rp 30.000 per orang per hari.

"Pertanian adalah penopang perekonomian masyarakat di pesisir Kulon Progo. Dengan kondisi sekarang negara tidak perlu memikirkan kehidupan rakyat di wilayah pesisir," kata Mujiran.

Meski sejahtera, para petani masih gelisah seiring rencana pemda menjadikan lahan tanam mereka sebagai tambang pasir besi. (ARA) Grafis: Dicky Sumber: BPS Kulon Progo, 2009 Produksi Cabai Besar Kulon Progo (dalam ton)
{[['']]}
 
Support : Produksi Pertanian | Produksi Pertanian | Produksi Pertanian
Copyright © 2011. Produksi Pertanian - All Rights Reserved
Template Created by Produksi Pertanian Published by Produksi Pertanian
Proudly powered by Produksi Pertanian