Info Terbaru :
Terbaru

Bulog Mulai Beli Beras dari Petani


Jakarta, Kompas - Perum Bulog mulai membeli gabah dan beras menyambut panen raya padi tahun 2010. Pada pembelian tahun ini, Bulog menargetkan peningkatan volume pembelian gabah secara besar-besaran untuk mendorong perbaikan harga jual gabah di tingkat petani.

Menurut Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso, Minggu (21/2) di Jakarta, Bulog telah menyalurkan surat kredit (L/C) ke Divisi Regional ataupun Subdivisi Regional Bulog di berbagai daerah senilai Rp 3 triliun. L/C itu setara dengan pengadaan beras 600.000 ton.

”Besaran L/C akan disesuaikan dengan pembelian beras di lapangan dan pasti akan meningkat nilainya,” kata Sutarto. Tahun 2010 Bulog menargetkan pembelian gabah dan beras sebanyak 3,2 juta ton setara beras.

Dari jumlah itu, 1,920 juta ton merupakan pembelian dalam bentuk beras. Sekitar 2 juta ton akan dibeli dalam bentuk gabah kering giling (GKG). Jumlah ini setara dengan 1,28 juta ton beras.

Tahap awal pembelian beras dilakukan di Nusa Tenggara Barat dan Papua, menyusul Jawa Tengah. Di ketiga wilayah itu, panen padi berlangsung Februari 2010.

Sutarto mengakui, tahap pertama pengadaan belum besar, baru 160 ton dari 18.000 ton target pembelian Februari. Namun seiring dengan meluasnya areal panen, volume pembelian akan naik.

Dibandingkan sebelumnya, target pengadaan gabah Bulog tahun ini lebih besar 40 persen dari total pengadaan selama setahun. ”Dengan memperbesar pengadaan gabah, diharapkan mendongkrak harga gabah di tingkat petani, pendapatan petani akan meningkat,” ujar Sutarto yang juga Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian.

Guru besar ekonomi industri pertanian UGM, M Maksum, menyambut baik niat Bulog memperbesar proporsi pembelian gabah. Namun, dia khawatir niat Bulog terganjal kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras, di mana ga- bah ”lebih mahal” daripada beras.

Pemerintah menetapkan HPP gabah kering panen di tingkat petani Rp 2.640 per kg, GKG di penggilingan Rp 3.345, sedangkan beras Rp 5.060. Proporsi HPP gabah dan beras baru tercapai saat rendemen GKG sebesar 65 persen. Faktanya, rendemen tidak sebesar itu.

Panen raya Maret-April

Sutarto memperkirakan, panen raya padi baru Maret 2010 mengingat musim tanam padi musim rendeng 2009/2010 mundur satu hingga satu setengah bulan. Mundurnya musim tanam berdampak pada panen raya padi yang biasanya Januari-Februari kali ini mundur ke Maret-April.

Mengacu pada data Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, luas areal panen Januari 500.999 hektar (ha). Pada Februari naik menjadi 1.098.458 ha, Maret naik menjadi 1.801.759 ha, dan April menjadi 1.818.913 hektar. Adapun panen Mei dan Juni mulai turun berturut-turut 1.180.614 ha dan 897.260 ha.

Terkait dengan bakal tidak tercapainya target produksi padi 2010 akibat iklim, Sutarto mengatakan, pemerintah menyiapkan tiga langkah antisipasi: percepatan tanam, penanaman padi umur pendek, dan pompanisasi.

Percepatan tanam dilakukan di wilayah yang kini panen. Hal ini dilakukan untuk mengejar ketersediaan air saat sedang musim hujan. Penanaman padi umur pendek dilakukan di daerah yang rawan kekeringan. Pompanisasi dilakukan untuk mengantisipasi jika pasokan air berkurang.

”Kalau melihat adanya fenomena iklim El Nino yang cenderung melemah, ada harapan hujan masih akan berlangsung hingga bulan Juli. Tak khawatir kekeringan,” katanya.

Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan Winarno Tohir sebelumnya memperkirakan, target produksi padi 2010 sebanyak 65,10 juta ton tidak akan tercapai mengingat dampak iklim tak bersahabat yang menyebabkan mundurnya musim tanam dan panen. Produksi padi diperkirakan 2 juta-3 juta ton lebih rendah daripada target.

Menurut Sutarto, pencapaian produksi padi 2009 fantastis, yakni 63 juta ton, naik 5,84 persen dari tahun 2008. Karena itu, target produksi rata-rata yang naik 3,2 persen per tahun selama 2010- 2014 merupakan hal luar biasa.

Meski begitu, pihaknya yakin target produksi masih bisa dicapai dengan cara-cara khusus, seperti disebutkan di atas. Tentunya dia berharap musim hujan berlangsung normal dan masih terjadi hingga Juli. Kondisinya bakal lain jika kemarau datang lebih awal. (MAS)
{[['']]}

Benih Masih Impor dari China


Jakarta, Kompas - Hingga kini Indonesia masih bergantung pada impor induk benih padi hibrida dari China. Ini semakin membuat Indonesia ketinggalan dari China dalam produksi padi hibrida. China telah melakukan komersialisasi benih padi hibrida lebih dari 33 tahun lalu.
Jika ketertinggalan ini terus terjadi tanpa ada upaya mengatasi, saat beras masuk Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China tahun 2015, serbuan beras murah dari China sulit dibendung.

Menurut Menteri Pertanian Suswono, ketertinggalan itu harus diatasi dengan meningkatkan produktivitas padi. Untuk itu, harus dihasilkan benih padi unggul. ”Kita akan mendorong para peneliti di Kementerian Pertanian menyiapkan semua itu (memproduksi benih unggul) agar pada 2015 tidak terjadi masalah besar bagi Indonesia,” kata Suswono di Jakarta, Kamis (4/2).

Ia menjanjikan akan memberikan dukungan sarana, prasarana, dan fasilitas penelitian agar peneliti di Indonesia bisa bersaing. Dengan demikian, Indonesia tidak lagi bergantung pada induk benih padi hibrida impor.

Direktur Penelitian dan Pengembangan PT Sang Hyang Seri Nizwar Syafa’at menyatakan, perusahaannya mulai mengembangkan pejantan mandul untuk pengembangan benih padi hibrida. ”Kami harap, 4-5 tahun lagi sudah mampu menghasilkan pejantan mandul sendiri,” ujarnya.

Sampai saat ini, lanjutnya, belum ada satu pun lembaga penelitian di Indonesia yang mampu menciptakan pejantan mandul sendiri dengan produktivitas tinggi. ”Produsen benih padi Indonesia mengimpor pejantan mandul (betina), lalu mengawinkan dengan pejantan lokal yang sudah adaptif dengan kondisi lingkungan di sini,” kata Nizwar.

Berbeda dengan pengembangan benih padi konvensional atau inbrida, pengembangan benih padi hibrida memerlukan proses yang relatif lama.

Proses pengembangan benih padi hibrida membutuhkan pejantan mandul agar memperoleh kemurnian dalam persilangan. Perbanyakan pejantan mandul dilakukan dengan menyilangkan induk yang memiliki sifat yang sama. Hasil persilangan ini diperlukan sebagai tetua betina. Setelah dikawinkan dengan restorer atau formula atau pejantan, dihasilkan benih padi hibrida F1 yang siap ditanam petani.

PT Sang Hyang Seri saat ini mampu menghasilkan berbagai varietas padi hibrida, seperti SL-8 dengan produktivitas 12 ton gabah kering panen per hektar.

Nizwar menegaskan, hingga kini belum ada produsen benih padi hibrida di Indonesia yang mampu memproduksi benih padi hibrida dengan produktivitas 2 ton per hektar. ”Jika produktivitas benih di bawah 2 ton, nilai keekonomiannya belum tercapai,” tuturnya.

Data Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian menunjukkan, sejak 2002 Balitbang Pertanian menghasilkan tujuh varietas padi hibrida, yakni Galur CMS A1, Galur CMS A2, Galur Restorer R 17, Galur Restorer R 32, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, dan IR 8025A/BR827-35. Namun, produktivitas varietas-varietas itu masih kalah dibandingkan dengan varietas yang dimiliki China.

Daya saing harga

Menurut Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, persaingan paling berat dengan China tahun 2015 terkait komoditas beras adalah pada daya saing harga dan efisiensi biaya produksi. ”Karena itu, produktivitas padi menjadi penting,” kata Bayu.

Dia menjelaskan, China yang beriklim subtropis memang lebih sedikit menghadapi serangan hama penyakit karena suhunya lebih dingin. ”Tetapi, kita punya ruang lain, yakni memiliki keragaman jenis padi,” ujarnya.

Oleh karena itu, usaha yang harus dilakukan adalah mengajak konsumen untuk lebih menyukai jenis-jenis beras tertentu yang dikembangkan di dalam negeri.

”Mengajak konsumen beras lokal agar seperti konsumen beras di Jepang, India, dan Timur Tengah yang lebih menyukai beras khusus, baik aroma, jenis, maupun rasa. Selain itu, diversifikasi konsumsi beras menjadi penting meski efisiensi produksi dan peningkatan produktivitas juga prioritas,” tutur Bayu.

Guna mendukung program kerja 100 hari, Kementerian Pertanian menyediakan benih padi umur pendek. Tiga jenis benih dasar padi varietas unggul yang dibagikan adalah Inpari 1, Silugonggo, dan Dodokan sebanyak 20 ton untuk sembilan provinsi penghasil utama beras. Provinsi itu antara lain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. (MAS)



{[['']]}

Belalang Sangit Serang Padi


Sajingan, Kompas - Sekitar 200 hektar tanaman padi di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, terancam gagal panen karena serangan hama belalang sangit.

Kondisi ini diduga disebabkan maraknya pembukaan lahan dan hutan untuk perkebunan kelapa sawit di sekitar lahan pertanian.

Sekretaris Kelompok Tani Nelayan Andalan Kecamatan Sajingan Hasminudin, Senin (18/1), belum mengetahui berapa luas tanaman padi di empat desa lain di Kecamatan Sajingan yang juga diserang belalang sangit.

”Belalang menyerang padi milik petani yang siap berbuah. Bulir padi menjadi kosong dan hampir pasti gagal panen,” katanya.

Pengendalian hama dengan insektisida, menurut petugas penyuluh lapangan Desa Kaliau, Espa Hani, sudah dilakukan petani. Namun, upaya itu kandas karena tersapu hujan yang turun hampir setiap dua hari dalam dua pekan terakhir.

Imanuel (55), petani di Dusun Sungai Enau, Desa Kaliau, meminta pemerintah memberikan perhatian serius untuk menangani serangan belalang. Ancaman gagal panen sangat mengkhawatirkan petani.

Kepala Dusun Sungai Enau Poten AR mengaku semakin khawatir mengingat kondisi saat ini sebagian anak balita di Kecamatan Sajingan kekurangan gizi. ”Jika sampai gagal panen, dikhawatirkan anak balita yang kekurangan gizi semakin bertambah,” katanya.

Seperti diberitakan, sekitar 35 persen anak balita di Kecamatan Sajingan Besar pada tahun 2009 kekurangan gizi. Bahkan, 9,6 persen anak balita menderita gizi buruk.

Dari 509 anak balita yang terpantau di lima desa di Kecamatan Sajingan Besar, diketahui ada 130 anak balita yang tergolong dalam gizi kurang dan 48 anak balita tergolong gizi buruk (Kompas, 18/1). (WHY)
{[['']]}

Program Satu Juta Sapi Sulit Tercapai


BANDUNG, KOMPAS - Provinsi Jawa Barat sulit mencapai target penambahan populasi sapi potong sebanyak satu juta ekor untuk memenuhi target swasembada daging 2013. Minimnya insentif bagi peternak menyebabkan biaya produksi tetap tinggi sehingga mekanisme pembibitan berjalan lambat.

"Pemerintah seperti kurang serius mewujudkan target swasembada daging. Tidak ada satu pun insentif, baik dari segi kemudahan akses perbankan, penyediaan bibit, maupun pembinaan bagi peternakan rakyat dan swasta," ungkap Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Rochadi Tawaf, Kamis (14/1) di Bandung.

Pembibitan sapi potong, menurut Rochadi, harus dilakukan melalui konsep unit pembibitan ternak (village breeding center). Unit pembibitan sebaiknya berada di wilayah yang masyarakatnya masih memiliki budaya ternak yang kental, seperti Ciamis dan Sukabumi.

Sesuai Undang-Undang Peternakan No 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pengusahaan bibit sapi sebenarnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Untuk itu, pemerintah harus memberi insentif kepada peternak atau pihak swasta yang serius mengembangkan bibit sapi potong.

Dia mencontohkan, saat ini belum ada satu pun peternak yang mampu mengakses kredit usaha pembibitan sapi (KUPS). KUPS adalah program pemerintah pusat dalam mengembangkan populasi sapi, dengan memberikan pinjaman lunak bunga 5 persen kepada peternak, dengan plafon maksimal Rp 10 juta per ekor. "Jabar bisa mencontoh Pemprov Jawa Timur yang menggerakkan perbankan daerah menjamin usaha pembibitan. Bahkan, ada subsidi untuk setiap anakan sapi yang dipelihara," kata Rochadi.

Dia memaparkan, populasi sapi potong di Jabar sekitar 300.000 ekor. Kebutuhan konsumsi mencapai 400.000 ekor per tahun. Dari total populasi 300.000 ekor itu, sapi lokal hanya menyumbang 20 persen atau 60.000 ekor di antaranya. Sisanya yang mencapai 240.000 ekor adalah sapi bakalan yang diimpor industri penggemukan sapi (feedlot) dan sapi impor yang langsung dipotong. "Dengan dukungan serius pun, penambahan populasi maksimal hanya 65.000 ekor per tahun. Program satu juta sapi baru tercapai mungkin setelah 10 tahun," katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Indonesia Jabar Dadang Iskandar mengakui, selama ini kebutuhan sapi potong di pasar lebih banyak disuplai daging dari Jatim, Jateng, dan Lampung. Jabar juga masih sangat tergantung pada pasokan sapi potong produk industri penggemukan.

Industri penggemukan

Untuk memenuhi peningkatan permintaan daging yang diperkirakan terjadi pada 2010, salah satu industri penggemukan sapi di Jabar, PT Citra Agro Buana Semesta (CABS), menargetkan penjualan sapi potong pada 2010 mencapai 40.000 ekor atau naik 10 persen dibandingkan dengan 2009 yang sekitar 36.000 ekor.

Komisaris Utama PT CABS Yudi Guntara Noor, di sela-sela pencanangan Agro Peduli yang merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan di Garut, mengatakan, untuk mencapai target, ia akan mengoptimalkan kapasitas kandang di Malangbong yang kini baru mencapai 9.000 ekor. Kapasitas itu baru mencapai 75 persen dari kapasitas maksimal 12.000 ekor.

Saat ini PT CABS menggemukkan sapi asal Australia jenis Australian Commercial Cross sebanyak 9.000 ekor di Malangbong dan 3.800 ekor di Jateng, dengan rentang penggemukan berkisar 75-90 hari. Yudi menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan pakan konsentrat yang mencapai 10 kg per ekor per hari, perusahaan bekerja sama dengan petani di Malangbong untuk pengadaan salah satu bahan baku pakan, yakni jagung. (GRE)
{[['']]}

Beras Organik Banyak Dicari Pasar


Bantul, Kompas - Minimnya suplai beras organik membuat peluang pengembangan komoditas ini terbuka lebar. Sayang, petani tidak memanfaatkan kesempatan. Mereka masih enggan mengembangkan pertanian organik karena terbiasa pertanian serba instan dengan bantuan pupuk kimia pabrik.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto, Kamis (14/1). "Produksi beras yang benar-banar murni organik di Bantul belum bisa melebihi angka 10 ton. Masih sangat terbatas. Yang banyak beredar adalah semiorganik," katanya.

Menurutnya, beras murni organik ditanam tanpa pupuk kimia, tanpa pestisida, dan menggunakan air tanah sehingga terhindar dari berbagai jenis limbah cair. Di pasar, kriteria beras seperti itu sulit dijumpai. Yang ada adalah semiorganik, yakni sudah menggunakan pupuk organik, tapi masih memakai pestisida dan air sungai.

Edy menuturkan, masih enggannya petani mengembangkan beras organik karena terbiasa dengan sistem instan. Soal penggunaan pupuk organik dampaknya memang diperoleh dalam jangka waktu lama. Sementara itu, hasil pupuk kimia bisa segera terlihat.

"Tak heran, meski Bantul sudah memiliki pabrik pupuk organik sendiri, serapannya baru sekitar 30 persen. Tahun lalu yang dialokasikan untuk Bantul sebanyak 6.000 ton, tetapi baru terserap 2.000 ton," katanya.

Di pasaran, harga beras organik berkisar Rp 8.000-Rp 10.000. Bagi petani, harga tersebut menggiurkan. "Kelompok kami sedang mencoba membudidayakan beras organik. Kami berharap mendapatkan pendampingan agar hasilnya panennya memuaskan," kata Sudirman, petani di Dusun Sawahan, Pendowoharjo, Bantul.

Peluang kerja sama antara petani dan pengusaha produk pertanian organik terbuka di Kulon Progo. Penjualan beras dan sayuran organik lebih menguntungkan petani karena nilai jualnya lebih tinggi.

CV Pro Petani Sejahtera, misalnya, siap membeli produk-produk pertanian organik dari petani dengan harga tinggi. "Harga yang kami tawarkan rata-rata Rp 2.000 lebih tinggi dari harga produk biasa. Misalnya, untuk beras organik kami beli Rp 10.000 per kilogram, lebih tinggi dari beras lain yang hanya Rp 7.500 per kg," kata Direktur CV Pro Petani Sejahtera Sri Maryono.

Kendati demikian, syarat yang ditetapkan dirasa memberatkan petani karena tidak mudah menerapkan pertanian organik murni. (ENY/YOP)
{[['']]}

Harga Beras di Pasar Naik


Tangerang, Kompas - Dalam dua pekan terakhir, harga beras di tingkat agen mengalami kenaikan sekitar Rp 200 per kilogram. Sementara di tingkat pengecer harga naik hingga Rp 400 per kilogram. Kenaikan ini dipicu oleh seretnya pasokan dari daerah produksi beras.

Selain beras, harga gula pasir dan komoditas tomat juga naik. Berdasarkan pengamatan, Sabtu (9/1) dan Minggu (10/1), kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok itu terjadi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan; Pasar Ciputat, Tangerang Selatan; serta Pasar Baru Ciledug dan Pasar Lama, Kota Tangerang.

”Pasokan beras dari Jawa belum ada karena saat ini sebagian tanaman padi masih hijau dan sebagian petani baru memasuki musim tanam,” kata Ilham, agen beras di Pasar Kebayoran Lama.

Okian, pedagang beras di Pasar Ciputat, mengatakan, sudah dua minggu terakhir pasokan beras dari Pasar Induk Beras Cipinang berkurang. Hal itu memengaruhi pengiriman produk tersebut ke tingkat agen dan pengecer.

”Menurut pedagang di pasar induk, barang dari daerah kosong sehingga persediaannya semakin terbatas,” kata Okian.

Menurut Abdul, agen beras di Pasar Baru Ciledug, terbatasnya persediaan beras karena jatah pasokan beras untuk agen di pasar-pasar kini dibatasi. Dalam kondisi normal, dirinya mendapatkan jatah pengiriman 1 ton beras setiap kali pengiriman atau seminggu sekali. Sejak dua pekan terakhir, kata Abdul, dirinya hanya mendapatkan jatah separuh dari pengiriman normal.



Harga beras

Harga beras di tingkat agen mengalami kenaikan rata-rata Rp 200 per kg. Harga beras Ramos 3 naik dari Rp 4.800 menjadi Rp 5.000 per kg dan Rp 5.000 naik menjadi Rp 5.200 per kg.

Harga beras Pandan Wangi naik bervariasi dari Rp 6.500 menjadi Rp 6.700 per kg, dari Rp 6.800 menjadi Rp 7.000 per kg, dan dari Rp 7.200 menjadi Rp 7.400 per kg.

Untuk harga beras Ramos I naik dari Rp 5.400 menjadi Rp 5.600 per kg dan Rp 5.600 menjadi Rp 5.800 per kg. Sementara harga beras Ramos II Rp 5.500 menjadi Rp 5.700 per kg serta beras Sengon asal Bandung naik dari Rp 5.800 menjadi Rp 6.200 per kg.

Sementara itu, harga di tingkat pengecer naik rata-rata sebesar Rp 400 per kg.



Gula dan tomat

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas gula pasir dan tomat. Harga gula pasir naik bervariasi Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per kg menjadi Rp 9.000-Rp 9.500 per kg. Namun, besarnya kenaikan itu juga bergantung pada merek dagang produk tersebut. Sementara di warung kecil harga gula naik hingga mencapai Rp 11.000-Rp 12.000 per kg.

Kenaikan harga terus terjadi dalam sepekan terakhir untuk komoditas sayuran, yakni tomat. Sepekan lalu harga tomat Rp 4.000-Rp 5.000 per kg, tetapi dalam sepekan terakhir ini naik menjadi Rp 6.000-Rp 7.000 per kg dan kini menjadi Rp 9.000-Rp 10.000 per kg.

Sementara harga komoditas terigu masih stabil. ”Saya pusing karena harga gula naik tinggi. Namun, beruntung harga terigu masih stabil,” kata Syarif, pedagang martabak di Jalan HOS Cokroaminoto, Paninggilan Utara, Ciledug.

Menurut Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang, sampai saat ini harga terigu tidak naik. Sejauh ini Bogasari belum pernah menaikkan harga terigu.

Terakhir kali pihaknya menaikkan harga jual terigu pada Juli 2007. Bahkan, setelah itu perlahan-lahan harga jual terigu turun.

”Terakhir penurunan harga jual terigu terjadi pada November 2009,” ujar Franciscus, akhir pekan lalu. (PIN)
{[['']]}

Petani Tebar Ulang Benih


Karawang, Kompas - Lahan persemaian tanaman padi di Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, beberapa kali terendam banjir 10 hari ini. Bibit padi pun mati sehingga petani menebar benih lagi untuk kedua kali awal musim ini.

Toni, petani di Desa Sukatani, Minggu (10/1), mengatakan, banjir menggenangi persemaian untuk 25 hektar sawah di Blok Bengkok, 10 hektar di Blok Ash Shidiqiyah, dan 8 hektar Blok Wagir. Persawahan itu umumnya baru selesai diolah dan persemaian dengan usia bibit bervariasi antara 10 dan 15 hari.

”Hujan deras yang turun beberapa jam membuat sungai meluap dan menggenangi sawah-sawah yang posisinya rendah di sekitarnya. Itu terjadi beberapa kali sehingga bibit layu dan mati,” ujar Toni.

Luapan air berasal dari Kali Cermin dan Kali Masamah. Setiap musim hujan, dua sungai itu sering meluap dan memicu banjir di sebagian persawahan Kecamatan Cilamaya Wetan. Selain dangkal, tinggi tanggul sungai umumnya pendek dan saluran menyempit di beberapa titik.

Menurut Kepala Desa Sukatani Awang Taswan, areal yang kini puso adalah sebagian dari sekitar 150 hektar sawah rawan banjir di desanya. Saat banjir awal tahun lalu, seluas 158 hektar dari total 550 hektar sawah Desa Sukatani tergenang banjir selama beberapa hari dan membuat padi menjadi puso.

”Petani menebar benih lagi dengan dana pribadi pada awal musim ini. Kami masih menginventarisasi kerugian petani untuk mengusulkan bantuan benih ke pemerintah kabupaten melalui Dinas Pertanian Karawang,” ujar Awang.

Meski masih berisiko banjir, petani memilih segera menebar benih lagi. Mereka tidak ingin ketinggalan dari petani lain. Masa tanam yang tidak serempak dikhawatirkan memicu serangan hama dan membuat hasil panen anjlok.

Petani-petani di Kecamatan Indramayu, Balongan, dan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, hari Minggu kemarin tampak mengolah lahan sebelum ditanami bibit padi. Sebagian petani juga telah menyemai bibit.

Namun, di Kecamatan Kandanghaur dan Patrol, sebagian lahan sawah yang telah diolah terendam air yang meninggi. Sebagian persemaian bibit juga terendam. Kondisi serupa tampak di sebagian lahan persawahan di Kecamatan Pamanukan dan Ciasem, Kabupaten Subang.

Tunda tanam

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Karawang Ijam Sujana menyatakan, sebagian persawahan di pesisir utara rawan banjir karena faktor geografis dan buruknya kondisi saluran pembuang. Kondisi saluran di muara sungai dangkal, memiliki tanggul rendah, dan menyempit karena bantarannya digarap warga.

Ijam menambahkan, petani di daerah golongan air IV dan V di pesisir utara memilih menunda penanaman hingga pertengahan Februari untuk menghindari banjir. Mereka, antara lain, tinggal di Kecamatan Tempuran, Pedes, Cilebar, Batujaya, Tirtajaya, dan Pakisjaya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Karawang Kadarisman mengatakan, data total luas tanaman yang puso akibat banjir belum ada.

Hingga akhir pekan lalu realisasi tanam musim rendeng di Karawang 45.000 hektar atau 47,8 persen dari target tanam 94.000 hektar. (mkn/mul)
{[['']]}
 
Support : Produksi Pertanian | Produksi Pertanian | Produksi Pertanian
Copyright © 2011. Produksi Pertanian - All Rights Reserved
Template Created by Produksi Pertanian Published by Produksi Pertanian
Proudly powered by Produksi Pertanian