Info Terbaru :
Terbaru

Hama Ulat Bulu Akan Sampai ke Malang Dalam Waktu Dekat

Walaupun Kabupaten Malang, Jawa Timur, belum terserang ulat bulu seperti yang terjadi di Kabupaten Probolinggo dan daerah lainnya di Jawa Timur, pihak Dinas Pertanian Kabupaten Malang sejak dini sudah melakukan antisipasi agar jika ada serangan ulat bulu, bisa langsung teratasi.

Bentuk antisipasi yang dilakukan adalah dengan menerapkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). "Apa yang kami lakukan itu atas instruski Gubernur Jawa Timur Soekarwo," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malang Purwanto, dihubungi melalui telepon, Minggu (10/4/2011).

Menurut Purwanto, penerapan sistem PHT akan lebih aman dibandingkan dengan penggunaan insektisida. Kalau menggunakan insektisida, dikhawatirkan berdampak buruk bagi lingkungan yang ada. "Secara tertulis kami memang belum menerima surat edaran dari Gubernur Jawa Timur. Namun, kami sudah mendapat informasi dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur via telepon agar menerapkan sistem PHT itu," katanya.

PHT dilaksanakan dengan menggunakan predator alami untuk ulat bulu. "Sampai sekarang, pihak Dinas Pertanian Kabupaten Malang masih terus melakukan penelitian. Sebab, informasi yang diterima pihak kami, ulat bulu yang menyerang Kabupaten Probolinggo itu adalah spesies baru," katanya.

Penelitian dilakukan dengan mengambil ulat bulu yang terserang penyakit. Sampel itu dibawa ke laboratorium hama untuk dikembangkan virusnya. Dalam melakukan pemantauan, Dinas Pertanian Kabupaten Malang mengerahkan 33 petugas yang disebar di setiap kecamatan di Kabupetan Malang.

Mereka bertugas mengamati jangkauan penyebaran serangan ulat bulu. "Sejak hari ini, 33 petugas itu sudah menyebar di lapangan. Namun, sampai detik ini belum juga ada laporan kalau di kabupaten ada ulat bulu seperti di Probolinggo itu," tuturnya.

Sementara itu, Sirojudin (43), seorang petani di Dusun Tulusayu, Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, mengaku sudah khawatir terhadap ancaman serangan ulat bulu itu. "Saya sudah khawatir serangan ulat bulu itu akan merusak lahan pertanian kami. Kabarnya, ulat bulu itu juga menyerang lahan pertanian," ujarnya.
{[['']]}

Untuk Menanggulangi Hama Ulat Bulu, Sampel Ulat Dikirim ke LIPI Untuk Diteliti

Sejumlah akademisi Jurusan Hama Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) mengirim sampel ulat bulu ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta.

Dosen Fakultas Pertanian Unej, Hari Purnomo, Minggu (10/4/2011), mengatakan, tim ahli dari Faperta Unej menemukan dua spesies ulat bulu di sejumlah kebun mangga di Probolinggo.

"Dugaan kami bahwa ulat bulu di Probolinggo berasal dari genus Arctonis sp (ngengat bersayap dengan warna pucat) dan Lymantria sp (ngengat bersayap dengan warna coklat bergaris)," tutur ahli serangga di bidang pertanian itu.

Sebanyak lima dosen Jurusan Hama Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Unej, yakni Hari Purnomo, Nanang Tri Hariadi, Saifudin Hasyim, Wagino MP, dan Suharto, melakukan observasi terhadap wabah ulat bulu di Probolinggo, Kamis.

"Kami membawa sejumlah sampel kepompong ulat bulu yang terparasit, ngengat dewasa, dan sejumlah predator yang memakan ulat bulu. Selanjutnya sebagian sampel akan dikirim ke LIPI," ujarnya.

Pengajar Entomologi Pengendalian Hayati Fakultas Pertanian Unej itu mengatakan, ulat bulu yang menyerang sejumlah kecamatan di Probolinggo adalah keluarga dari ngengat (Lymantriidae), sejenis kupu-kupu yang umumnya aktif dan bertelur pada malam hari.

"Sampel ngengat dewasa (imago) dikirim ke Dr Hari Sutrisno, ahli ngengat dari LIPI, untuk memastikan spesies ulat bulu yang menyerang Probolinggo," katanya.

Sementara itu, untuk mengidentifikasi parasit yang menyerang kepompong ulat bulu, kata dia, sampel kepompong/pupa terparasit juga dikirim ke peneliti LIPI ahli biologi, Rosichon Ubaidillah. "Saya hanya menduga parasit yang menyerang kepompong ulat bulu adalah parasitoid atau sejenis tabuhan kecil ordo Hymnoptera Brachymeria karena kepompong ulat bulu menjadi berwarna agak hitam," ucapnya.

Hari menegaskan, sebanyak lebi dari 50 persen kepompong ulat bulu yang berada di Probolinggo sudah mati karena diserang musuh alami berupa parasit, patogen, dan sejumlah predator. "Musuh alami, seperti predator, parasit, dan patogen, sudah bekerja secara alami. Ulat bulu yang terserang virus NPV terlihat mati menggantung di daun, sedangkan ulat bulu yang terserang jamur berwarna putih," ujarnya.

Sumber: Kompas
{[['']]}

Penyebab Populasi Hama Ulat Bulu Terus Meningkat , Serta Cara Penanggulangannya

Perubahan iklim terutama temperatur lingkungan ikut mempengaruhi populasi ulat bulu, karena temperatur yang meningkat dapat mempercepat siklus hidup ulat itu, kata pakar hama dan penyakit tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Suputa. "Meningkatnya populasi ulat bulu juga disebabkan semakin berkurangnya musuh alami, seperti burung, parasitoid, dan predator lain," katanya dalam diskusi Fenomena Wabah Hama Ulat Bulu di Jawa Timur, di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, akibat tingginya populasi, serangan ulat bulu di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, semakin memprihatinkan. Ulat bulu tidak hanya menyerang daun mangga di Kecamatan Bantaran, Leces, Sumberasih, dan Tegalsiwalan, tetapi juga memasuki rumah penduduk. "Daun mangga varietas Manalagi di daerah itu habis dimakan ulat bulu. Pohon mangga tinggal ranting dan batangnya," katanya.

Ia mengatakan, ulat bulu tersebut lebih memilih menyerang daun mangga Manalagi dibanding varietas pohon mangga lain. Pemilihan inang itu dilakukan ulat bulu dewasa saat meletakkan telur. "Ulat bulu bukan termasuk kupu-kupu, tetapi sebangsa ngengat. Diduga ngengat ulat bulu itu yang meletakkan telur pada celah kulit pohon mangga atau di bawah daun," katanya.

Menurut dia, serangan ulat bulu tersebut bukan fenomena baru, karena sebelumnya pernah terjadi serangan serupa. Bahkan, pernah terjadi tanaman lombok se-Jawa yang layu menguning akibat serangan hama tanaman. "Terdapat dua spesies ulat bulu yang menyerang daun mangga di Probolinggo, yakni arctornis sp dan Lymantria atemeles Collenette. Ulat bulu itu bersifat nokturnal, yakni ulat yang aktif pada malam," katanya.

Ia mengatakan tidak mengherankan jika pada malam sering terdengar seperti suara hujan, padahal saat itu sesungguhnya ulat bulu sedang memakan daun-daun mangga. "Jika serangan ulat ini dibiarkan, maka akan banyak pihak mengalami kerugian. Selain ketakutan juga kerugian secara ekonomi," katanya.

Oleh karena itu, pengendalian terhadap populasi ulat menjadi langkah yang harus segera dilakukan. Terlebih kemampuan produksi telur ulat betina mencapai 70-300 butir per ulat. "Pengendalian hama terpadu dengan pendayagunaan musuh alami, burung, parasitoid, perangkap lampu UV, dan penggunaan perangkap feromon seks perlu dilakukan," katanya.

Sumber: Republika


{[['']]}

Cara Baru Membudidayakan Jamur dengan Media Kapas




Empat pekerja sibuk membolak-balik limbah kapas di lahan kosong di samping kantor Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Senin (28/3). Lahan itu berada di Desa Bulakamba, Kecamatan Bulakamba. Satu di antara mereka menaburkan bekatul, di atas tumpukan limbah kapas.
{[['']]}

Hama Ulat Bulu Meluas, Bagaimana Cara Mengatasinya?

PROBOLINGGO – Pertumbuhan ulat bulu yang sangat cepat diperkirakan bakal menjalar ke sejumlah daerah lain di sekitar Kabupaten Probolinggo. Ini disebabkan fase perubahan cuaca yang masih akan berlangsung dalam satu atau dua bulan mendatang. Saat ini,

Dinas Pertanian Probolinggo mencatat ulat bulu telah menyebar di 60 desa pada delapan kecamatan.Kedelapan kecamatan itu Leces, Tegalsiwalan, Bantaran, Sumberasih, Wonomerto, Dringu, Banyuanyar,dan Tongas.

Menurut Arif Kurniadi,Kasi Penanggulangan Hama Disperta Kabupaten Probolinggo, untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran ulat bulu, Disperta terus menggiatkan penyemprotan disinfektan ke daerah-daerah yang terserang ulat bulu.”Hari ini petugas menyemprotkan disinfektan ke 14 titik.

Cuaca yang cerah sangat membantu mengatasi perkembangan ulat bulu,” tandas Arif Kurniadi. Tak hanya mengganggu aktivitas warga, ulat bulu juga menyebabkan produksi pertanian terancam menurun.Mangga, produk unggulan Probolinggo yang saat ini sedang berbunga, diperkirakan tidak akan berbuah lantaran menjadi kering.

Berdasar catatan Dinas Pertanian, sebanyak 8.877 pohon mangga milik warga dan yang tersebar dibeberapa perkebunan terserang ulat bulu dan terancam gagal panen. Setiap panenan satu pohon mangga setara dengan Rp500.000. Dengan demikian, potensi kerugian dari ancaman gagal panen tersebut mencapai lebih dari Rp4,4 miliar.

Didukung Cuaca

Kepala Laboratorium Hama Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Dr Ir Totok Himawan menjelaskan, fenomena ”serangan” ulat bulu ini tak lepas dari pengaruh cuaca.Tingginya curah hujan di penghujung musim menyebabkan predator ulat bernama Braconid dan ‘Apateles’ tak mampu bertahan hidup.

Akibatnya, ulat bulu berkembang sangat cepat. Selain pengaruh cuaca, ulat bulu berkembang karena residu pestisida yang membunuh predatornya. ”Dugaan kita petani di Kabupaten Probolinggo terlalu banyak menyemprotkan pestisida.Nahresidunya itubisa menghambat pertumbuhan dan membunuh predator alami ulat. Lantas predator alami itu tidak bisa mengontrol perkembangbiakan ulat,”jelas Totok.

Meski begitu, dia menjelaskan warga tak perlu panik. Sebab jenis ulat bulu di Probolinggo itu tidak membahayakan. ”Ulat bulu yang ada di Kabupaten Probolinggi itu dari spesies Dasychira Inclusa atau sejenis ulat bulu yang tidak gatal dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit,”ujar Totok. Sobari, dosen di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerangkan, ada tiga cara membasmi ulat bulu,yaitu cara fisik, kimia dan biologi.

”Cara fisik dengan cara memukuli seluruh ulat sampai mati atau bisa juga dengan menggunakan api untuk membakar ulatnya. Kalau cara kimia dengan menyemprotkan insektisida tertentu. Kemudian cara biologi,berarti harus memasukkan salah satu hewan yang bertugas memangsa seluruh ulat itu,”terang dia.

Sumber: Koran Sindo
{[['']]}

Desakan Menolak "Golden Rice"

Kontroversi soal produk pertanian transgenik terus berlanjut, sejumlah lembaga swadaya masyarakat menolak rencana pemerintah memasukkan produk tanaman pangan transgenik karena dapat mengesampingkan biodiversitas atau keanekaragaman hayati. Termasuk di antaranya jenis padi golden rice dengan kandungan selain karbohidrat, juga beta karoten, yang mengesampingkan penyediaan beta karoten dari tanaman sayur dan buah-buahan.

”Padi transgenik golden rice itu problem orang yang mencari pasar,” kata Direktur Eksekutif Institute of Global Justice Indah Suksmaningsih di Jakarta, Jumat (1/4). Jenis padi golden rice masih dalam pengembangan International Rice Research Institute (IRRI), belum diluncurkan.

Indah bersama Koordinator Aliansi Desa Sejahtera, Tejo Wahyu Jatmiko, dalam konferensi pers menyampaikan tema ”Pangan Transgenik Bukan Solusi Pangan Indonesia: Kasus Golden Rice”.

Dukung petani

Menurut Indah, rencana pemerintah memasukkan produk tanaman pangan transgenik sekaligus menunjukkan lemahnya perhatian di bidang penelitian. Para petani bahkan diarahkan bergantung pada perusahaan produsen benih.

”Pemerintah sebaiknya mendukung para petani pemulia yang selama ini menyilangkan tanaman pangan sendiri untuk mendapatkan kesesuaian varietas yang diinginkan,” kata Indah.

Tejo menambahkan, kasus golden rice adalah persoalan perusahaan asing yang mencari pasar di negara berkembang dengan makanan pokok beras. Pemerintah tidak perlu terpengaruh.

”Saat ini konsumsi beras Indonesia terbesar di dunia, mencapai 139 kilogram per kapita per tahun,” kata Tejo.

Menurut dia, tak ada sedikit pun upaya pemerintah menekan jumlah konsumsi beras tersebut, meski saat ini masih memiliki 77 jenis komoditas yang bisa menjadi pengganti beras.

”Masih punya sukun atau umbi-umbian. Namun, ini tak pernah diperhatikan untuk substitusi beras atau mengurangi jumlah konsumsi beras,” kata Tejo.

Menurut Indah, pemerintah tidak mampu melihat persoalan yang sesungguhnya dihadapi petani. Ancaman kekurangan pangan selalu dikaitkan dampak perubahan iklim.

Padahal, ada beberapa tanggung jawab yang tidak dikerjakan pemerintah. ”Pemerintah selama ini mengabaikan perbaikan sistem irigasi, tetapi justru menanggapi gangguan-gangguan global terhadap mekanisme pertanian Indonesia,” kata Indah.

Sumber: Kompas
{[['']]}

Mekanisasi Pertanian Saat Ini Masih Terganjal Masalah Sosial

Mekanisasi pertanian mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemanenan, hingga pengolahan hasil pertanian belum bisa dijalankan secara optimal karena ada hambatan sosial. Padahal, mekanisasi dapat menekan biaya produksi petani hingga 25 persen.

Menurut Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Astu Unadi, Jumat (1/4) di Jakarta, hingga saat ini mekanisasi pertanian baru bisa berjalan setengahnya, terutama mekanisasi dalam hal pengolahan lahan dan pengolahan hasil pertanian.

Pemrosesan padi dari gabah menjadi beras juga sudah menggunakan mesin, tidak lagi ditumbuk karena bila ditumbuk tingkat kehilangan hasilnya tinggi, kualitas beras jelek, dan biaya tenaga kerja besar serta lamban.

”Meskipun butuh puluhan tahun untuk mengubah budaya, traktor dan mesin penggilingan padi akhirnya diterima petani dan masyarakat,” katanya. Petani sekarang tidak mau lagi mencangkul karena itu pekerjaan berat, begitu pula dengan menumbuk gabah.

Pada tingkatan lain, mekanisasi pertanian sulit berkembang, terutama pada tahap penanaman dan panen.

”Kalau mekanisasi sudah masuk, biaya produksi bisa ditekan lebih rendah sampai 12,5 persen lagi,” katanya.

Sulitnya mekanisasi masuk karena terbentur masalah sosial. Astu mencontohkan, bila menggunakan tenaga manusia untuk penanaman dan panen butuh tenaga kerja 30 orang per hektar per hari dengan upah Rp 40.000 per hari.

Bila menggunakan mesin, selain lebih cepat biaya tanam dan panen bisa ditekan lebih dari separuhnya. Akan tetapi, tenaga kerja akan berkurang banyak.

Investasi mesin pertanian juga sekarang tidak begitu mahal karena sebagian besar sudah diproduksi di dalam negeri.

Mekanisasi penanaman dan pemanenan sulit diterapkan. Bahkan, di beberapa lokasi seperti di wilayah pantai utara Jawa, pernah ada kasus mesin pemanen padi dibakar massa.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir menegaskan, mekanisasi pertanian bisa dijalankan di luar Pulau Jawa karena di sana kekurangan tenaga kerja

Sumber: Kompas
{[['']]}
 
Support : Produksi Pertanian | Produksi Pertanian | Produksi Pertanian
Copyright © 2011. Produksi Pertanian - All Rights Reserved
Template Created by Produksi Pertanian Published by Produksi Pertanian
Proudly powered by Produksi Pertanian